Rabu, 26 Juni 2019

Menolak anggota ISIS kembali ke Indonesia

Kelompok radikal yang kerap melancarkan serangan bom bunuh diri, ISIS tak boleh diremehkan. Mengapa? Kelompok ini telah menevar teror bukan hanya di kawasan Timur Tengah, tetapi juga di jantung Eropa. Indoktrinasi yang massif dan pola rekrutmen yang semakin dimudahkan karena perkembangan teknologi informasi, membuat ISIS masih eksis.

Organisasi dengan nama lengkap Negara Islam Irak dan Syam atau Negara Islam Irak dan Suriah kelompok militan ekstremis. Kelompok ini dipimpin didominasi oleh anggota Arab Sunni dari Irak dan Suriah. Wikipedia mencatat, hingga Maret 2015, NIIS menguasai wilayah berpenduduk 10 juta orang di Irak dan Suriah. Lewat kelompok lokalnya, NIIS juga menguasai wilayah kecil di Libya, Nigeria, dan Afghanistan. Kelompok ini juga beroperasi atau memiliki afiliasi di berbagai wilayah dunia, termasuk Afrika Utara dan Asia Sela

Di Indonesia sendiri, yang begitu sangat terbuka, banyak organisasi garis keras yang menyebarkan paham radikalisme dan terorisme. Pada awal 2016, saat Kapolri masih dijabat Jenderal Pol Badrodin Haiti, diungkapkan, mulai bermunculan organisasi-organisasi yang berafiliasi dan mendukung terbentuknya Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) di Indonesia. Ini sinyal dan peringatan bagi seluruh masyarakat untuk lebih waspada.

Nah, bagaimana saat ini setelah lebih setahun dan kepolisian dipimpin Jenderal Tito Karnavian? Perkembangan ISIS makin mendapat tempat yang subur. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmandtyo mengatakan, saat ini sel ISIS sudah menyebar di Indonesia. Ada 16 lokasi sel ISIS di Indonesia.

Menurut Panglima saat berbicara di Gedung DPR, jika kita tidak segera tutup pelarian ISIS ke Indonesia, sangat berbahaya. Namun Gatot tidak memerinci secara detail ke-16 lokasi sel ISIS di Indonesia. Contohnya daerah NTB Bima, Jateng ada, Jatim .

Pembahasan mengenai dampak pengaruh ISIS di Indonesia amat relevan, apalagi belum lama ini pecah pertempuran terbuka antara kelompok ISIS dengan militer Filipinan di Kota Marawai, Filipina. Bahkan sampai sekarang perebutan pengaruh dalam bentuk perang terbuka belum berakhir. Artinya, kelompok ISIS yang didukung kelompok radikal di sana cukup kuat, dan menariknya sejumlah orang Indonesia ikut bertempur bergabung dengan ISIS di Marawai.

Karena itu antisipasi masuknya pengaruh ISIS dari pertempuran di Marawai juga kian digencarkan.

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengatakan, Indonesia mengantisipasi kemungkinan perpindahan milisi ISIS ke Indonesia setelah adanya serangan kepada kelompok tersebut di Marawi, Filipina. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperketat penjagaan daerah perbatasan Indonesia yang berdekatan dengan Filipina Selatan.

Wilayah Indonesia yang paling dekat dengan Filpina, Sulawesi Utara, sudah menetapkan menetapkan siaga satu terkait dengan belum berakhirnya konflik bersenjata di Kota Marawi, Filipina. Penetapan ini disampaikan oleh Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey, seusai pelaksanaan Rapat Koordinasi Terorisme di Indonesia dan Konflik Marawi, yang digelar di kantor Gubernur, Rabu 14 Juni 2017.Dari perkembangan situasi di atas dan masih kuatnya kelompok ISIS di sejumlah negara, maka sudah saatnya, kita semua, ikut membantu pemerintah dalam mengantisipasi dan memperkecil ruang gerak kelompok-kelompok radikal di Indonesia. Jika ada kepedulian di antara kita semua, maka sekecil apappun sel-sel kelompok radikal, akan terpantau. Sebaliknya jika kita abai dan tak mau peduli, ini menjadi peluang paling besar bagi mereka mengembangkan pengaruh.
Yang efektif adalah dari kelompok kecil, yakni keluarga. Setiap keluarga dan lingkungan keluarga besarnya harus bisa memantau perkembangan anggota keluarganya dari berbagai kegiatan yang menjurus pada tindakan radikal. Bersamaan dengan itu memberikan arahan dan keteladanan bagaimana hidup bermasyarakat dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki falsafah dan ideologi Pancasila, bukan ideologi agama.
Dengan adanya penanaman diri dengan pancasila maka akan menanamkan rasa cinta dengan negara Indonesia,untuk menghindari adanya kelompok radikal dalam arti menolak adanya tindakan radikal di Indonesia maupun yang baru ataupun sebagai mantan anggota radikal. Begitulah cara untuk menolak adanya tindakan radikal yang akan mengkontaminasi rakyat Indonesia,tanpa kita ketahui anggota tindakan radikal akan secara halus masuk ke Indonesia. Maka dari itu masing-masing pribadi harus mempunyai tameng diri agar tidak terbelenggu kedalam tindakan radikal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar